Selasa, 21 Mei 2013

FESTIVAL-FESTIVAL DI JEPANG

Di Indonesia, jarum yang sudah tidak dipakai akan dibuang begitu saja, hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan di Jepang. Di negara yang terkenal dengan mie ramen-nya itu, jarum sangat dihormati. Jarum tidak sekedar benda yang digunakan sebagai alat menjahit yang akan dibuang saat sudah tidak dipakai. Jarum-jarum yang tidak terpakai lagi itu akan didoakan dan dimakamkan dalam festival yang diadakan satu tahun sekali.



Sepanjang tahun di Jepang dipenuhi dengan festival-festival yang menarik. Kita tentu telah sangat akrab dengan banyaknya hari libur di Indonesia. Di Jepang kita akan menjumpai jumlah hari libur yang kurang lebih sama banyaknya. Sebagian besar hari libur itu adalah untuk memperingati festival yang secara rutin digelar tiap tahun secara turun temurun, yang slah satunya adalah festival musim panas. Sebuah perpaduan yang sangat indah antara masa lampau dengan masa kini, manakala melihat rombongan gadis berkimono melenggang di tengah rimbunan gedung pencakar langit, dan ribuan orang berjas rapi di kawasan kota Tokyo.
1. Tanabata
Asal-usul festival ini sangat menarik untuk diceritakan, bermula di Tiongkok dan diperkenalkan kepada masyarakat Jepang pada jaman Nara. Kisahnya bermula pada cerita cinta dua manusia bernama Altair (Hikoboshi) dan Vega (Orihime), bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra.

Hikoboshi adalah seorang penggembala sapi, sedangkan Orihime adalah seorang putri yang memiliki kepandaian menenun. Mereka menelantarkan pekerjaan mereka karena cinta tersebut, dan hal ini membuat Raja Langit marah sehingga memisahkan mereka berdua menggunakan sungai Amanogawa. Orihime dan Hikoboshi hanya dapat bertemu pada malam ketujuh bulan ketujuh setiap tahunnya, melewati sebuah jembatan ajaib. Jika pada malam tersebut terjadi hujan, sungai yang memisahkan mereka akan meluap dan mereka harus menunggu hingga tahun depan untuk kembali bertemu.
Salah satu tradisi yang paling terkenal adalah menulis tanzaku, permohonan dan impian yang dituliskan di atas selembar kertas atau potongan kayu dan digantungkan pada batangan bambu. Setelahnya, permohonan-permohonan ini akan diapungkan di sungai atau dibakar pada tengah malam, dengan tujuan agar segala sesuatu yang buruk segera berlalu. Harapan mereka dipercaya akan terkabul apabila pada hari itu hujan tidak turun
2. Hanabi (Kembang api)
Perayaan khas di musim panas, bermula dari zaman Edo (1600-1868). Merupakan pesta kembang api yang diadakan di seluruh wilayah Jepang pada pertengahan bulan Agustus. Selain itu, ada juga permainan-permainan seru seperti menangkap ikan mas koki menggunakan kawat berlapis kertas tipis, dan banyak kedai-kedai yang menjual berbagai macam makanan seperti permen apel, manisan, dan lain-lain. Di sekitar tempat dimana berlangsung pesta kembang api terdapat berbagai kios-kios hiburan yang menyediakan makanan, minuman, permainan anak tersebut. Mereka datang bersama keluarga, sebagian ada yang mengenakan yukata (kimono dari katun, sederhana) sambil membawa kipas kertas pengusir udara panas di musim panas.
3. O-Bon
Merupakan peristiwa keagamaan Budhis dimana setiap keluarga di Jepang menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut datangnya arwah para leluhur yang tinggal untuk beberapa hari lamanya di rumah mereka. Sejumlah penerangan api yang dipasang di sekitar rumah merupakan sambutan selamat datang. Selama masa O-bon, keluarga meletakkan sesajen buah-buahan dll, di meja sajen. Di beberapa daerah juga, dilakukan tarian massal O-bon dengan iringan sejumlah instrumen musik tradisional seperti tambur taiko, sruling, dll dengan irama yang dinamis. Sebagai penutup perayaan, dilakukan pelarungan lentera-lentera kecil berwarna-warni di sungai terdekat secara beramai-ramai
4. Tsukimi
Merupakan pesta menikmati indahnya bulan purnama di musim panas sekitar pertengahan bulan Agustus. Di Jendela dimana terlihat bulan purnama, diletakkan sesajen khusus. Hal ini sebenarnya merupakan wujud pemujaan alam oleh masyarakat pertanian untuk memperoleh panen yang berlimpah
5. Hakata Gion Yamakasa (1-15 Juli) di Hakata (prefektur Fukuoka)
Perayaan ini dimulai sejak zaman Kamakura (1185-1333), dalam rangka mengusir bencana penyakit. Kuil-kuil kecil (Shinto) gotongan (O-mikoshi) diarak beramai-ramai, beriringan dengan kendaraan-kendaraan hias yang disebut Kazari Yamagasa dengan boneka-boneka besar yang menggambarkan tokoh-tokoh legenda atau sejarah
6. Tenjin Matsuri (24-25 Juli) di Osaka
Merupakan salah satu festival besar dan terkenal di Jepang, dimulai sekitar tahun 1000. Ribuan orang berarakan menggotong kuil-kuil kecil o-mikoshi dari kuil Temmangu ke Jembatan Tenjin, kemudian naik perahu-perahu hias dan selanjutnya dilakukan pesta kembang api
7. Awa Odori (12-15 Agustus, mulai senja)
Merupakan bagian dari perayaan O-bon dalam rangka menyambut dan mengantarkan kembali arwah para leluhur. Tarian massal ini konon dimulai lebih dari 400tahun yang lalu, dan dewasa ini diikuti oleh ratusan ribu peserta yang menari berirama dengan iringan alat music tradisional shamisen, tambur, seruling, dan lonceng. Biasanya ada pembimbing tari yang memimpin agar para peserta dapat menari secara sinkron
8. Akita Kanto Matsuri (3-6 Agustus, mulai jam 7 malam) di kota Akita
Merupakan salah satu dari tiga festival terbesar Jepang utara. Yang menjadi ciri khasnya adalah 46 lentera yang dipasang pada kerangka besar yang dibuat dari batang-batang bambu (kanto) setinggi 12 meter. Para pembawa kanto ini menunjukkan kepiawaian mereka menjaga keseimbangan, meletakkan kanto di telapak tangan, dahi, bahu, atau pinggang. Setiap kanto bermotif khusus, biasanya melambangkan panjang umur dan panen berlimpah
9. Nebuta Matsuri (1-7 Agustus)
Diadakan di Aomori dan Hirosaki. Iring-iringan kendaraan hias bergambar makhluk raksasa penyebab kantuk di musim panas. Festival ini dimaksudkan untuk mengusir makhluk ini. Kata “nebuta” berasal dari “nemuri” (kantuk). Banyak sekali orang yang ikut menyaksikan festival ini setiap tahunnya.

HARI-HARI YANG ADA DI JEPANG

.      Perayaan hari Hanabi Takai, Pesta Kembang Api Termegah di Jepang
Pada saat-saat musim panas, warga Jepang sibuk mempersiapkan perayaan pesta kembang api Hanabi Takai. Beribu-ribu hingga puluhan ribu kembang api dipersiapkan guna merayakan pesta musim panas.
Pada saat merayakan Hanabi Takai, warga Jepang khususnya kaum perempuan berbondong-bondong memakai pakaian tradisional Jepang, yakni Yukata atau Kimono musim panas.
Selain memakai pakaian-pakaian tradisional, warga Jepang pun berbondong-bondong memakai pakaian yang semenarik mungkin utntuk menikmati pesta Hanabi dan tentunya menarik perhatian para turis yang datang.
Pesta Hanabi Takai ini juga mempunyai ciri khas, yaitu pada saat menyalakan puluhan ribu kembang api, maka yang akan terlihat adalah motif lautan bunga yang berwarna-warni dan motif-motif lainnya yang rasanya sayang untuk dilewatkan. Pesta Hanabi Takai ini memakan waktu sekitar 60-90 menit. Waktu tersebut cukup untuk memanjakan mata dengan motif berwarna-warni dan beraneka ragam serta bunyi-bunyi letusan kembang api di udara yang menambah suasana ramai di pesta Hanabi.
Sejarah Hanabi
Pada zaman dahulu, pesta Hanabi hanya diperuntukan dan bisa dinikmati oleh orang-orang tertentu dan kalangan atas. Biasanya kembang api dinyalakan sebagai tanda penutup setelah mengadakan jamuan megah nan mewah.
Namun, sekitar abad ke-18 tepatnya di Zaman Edo, pesta Hanabi baru bisa dinikmati semua rakyat di Jepang tanpa kecuali. Itu semua berkat seniman kembang api, yaitu Kagiya bersama asistennya yang bernama Tamaya.Kedua seniman kembang api itu sangat gigih dalam meniti karir di bidang kembang api. Berbagai macam inovasi-inovasi baru berhasil mereka ciptakan dan kembangkan.
Semula usaha kembang api hanya dirintis oleh Kagiya pada tahun 1659. Namun setelah usahanya berkembang, Kagiya memperkerjakan Tamaya sebagai asistennya.
Hanabi Termegah
Pesta Hanabi memang banyak menyimpan berbagai kemegahan dalam menyuguhkan hiburan dalam bentuk kembang api, dan biasanya pesta Hanabi diadakan di tempat-tempat terbuka. Namun ada beberapa perayaan Hanabi yang diadakan di tempat-tempat tertutup. Dan berikut pesta Hanabi termegah :
1. Jingu Hanabi
Jingu Hanabi dirayakan di sebuah stadion basball yang bernama stadion Jingu. Dinamakan Jingu Hanabi karena pesta Hanabi ini dirayakan di stadion Jingu yang lokasinya berada di tengah-tengah kota Tokyo.
2. Koshien Hanabi
Sama seperti Jingu Hanabi, Koshien Hanabi diadakan di Stadion koshein. Koshein Hanabi merupakan perayaan pesta Hanabi termegah yang ada di kota Osaka. Stadion ini mampu menampung 100.000 penonton yang datang untuk menyaksikan pesta Hanabi.
3. Edogawa Hanabi Takai
Pesta Hanabi di tempat ini sangatlah sulit untuk mendapatkan kursi guna menyaksikan langsung pesta kembang api secara meriah. Sebelum datang perayaan Edogawa Hanabi Takai, warga Jepang cepat-cepat memesan kursi yang akan didudukinya di pesta Hanabi nanti.  Saat memesan kursi di Stadion, warga Jepang hanya menjaga kursinya dengan ditandai dengan alas atau papan nama. Mereka tak merasa khawatir karena kerukunan antar warga Jepang sangatah erat sehingga mereka yang telah memesan kursi tak merasa khawatir.
Saat perayaan Hanabi tiba, penonton yang telah memadati stadion bersorak-sorai kegirangan saat kembang api meledak di udara dengan kemegahannya.  Tak hanya di dalam stadion, di luar stadion pun tak kalah histerisnya saat melihat kembang api yang meledak. Mereka yang berada di luar stadion merupakan warga Jepang yang menyaksikan pesta Hanabi secara gratis karena tak berada di dalam stadion. Pesta Hanabi ini dilakukan setiap tahun di bulan Agustus, Sabtu pertama.
2.Perayaan Hari Tahun Baru di jepang
(正月 shōgatsu?) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari  dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari Dalam bahasa Jepang, kata "shōgatsu" dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama di awal tahun. Istilah "shōgatsu" juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga koshōgatsu (小正月)tahun baru kecil) tanggal 15 Januari Tanggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi. Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto  tutup hingga tanggal 5 Januariatau 7 Januari Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mal dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan  fukubukuro(kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.
3.Perayaan Matsuri
Matsuri berarti festival atau hari raya. Di Jepang, festival biasanya disponsori oleh kuil ataupun diadakan bukan yang bersifat kepercayaan. Biasanya setiap daerah memiliki setidaknya satu matsuri di akhir musim panas atau awal musim gugur, kadang berhubungan dengan panen. Kita dapat menemukan stan-stan di sekitar matsuri yang menjual souvenir atau makanan seperti takoyaki, atau yang menyediakan permainan seperti menangkap ikan koki. Selain itu ada juga kontes karaoke, pertandingan sumo, dan hiburan-hiburan lain yang tersedia.
Berikut ini beberapa festival yang terkenal di Jepang
4.perayaan Hari Festival Nasional
  • Seijin Shiki (Senin kedua di bulan Januari)
    Coming of Age Day
  • Hinamatsuri (3 Maret)
    Festival boneka ini mempunyai nama lain seperti Sangatsu Sekku (Festival Bulan 3), Momo Sekku (Festival Persik), Joshi no Sekku (Festival Gadis). Dikenal sebagai Festival Persik karena persik bersemi di awal musim semi dan disimbolkan sebagai keberanian dan kecantikan feminin. Anak perempuan memakai kimono terbaik mereka dan mengunjungi rumah temannya. Di rumah-rumah di tempatkan panggung berisi hina ningyo (boneka hina, sederet boneka yang mewakili kaisar, permaisuri, pelayan, dan musisi yang memakai pakaian kuno) dan sekeluarga merayakan dengan makanan spesial Hishimochi dan Shirozake.
  • Hanami (akhir bulan Maret hingga awal April)
    Berbagai festival bunga diadakan oleh kuil Shinto selama bulan April. Darmawisata dan piknik dilakukan untuk menikmati bunga, terutama bunga Sakura. Di beberapa tempat, menikmati bunga diadakan berdasarkan hari-hari tertentu yang tetap. Even ini yang paling populer selama musim semi.
    selama bulan April
  • Tanabata (7 Juli)
    Disebut juga festival bintang. Aslinya berasal dari legenda China yang menceritakan dua bintang penenun (Vega) dan pengembala domba (Altair) dimana mereka berdua pasangan kekasih yang hanya dapat bertemu sekali dalam setahun pada malam ke-7 bulan ke-7 dimana tidak ada hujan dan banjir di Milky Way pada hari itu. Dinamakan Tanabata setelah gadis penenun dari legenda Jepang dipercayai dialah yang membuat baju untuk dewa-dewa.
  • Shichi-Go-San: festival untuk anak-anak berusia 3, 5, 7 tahun (15 November)
    Anak laki-laki berusia lima tahun atau tujuh tahun serta anak perempuan berusia tiga tahun dibawa ke kuil setempat untuk berdoa demi keselamatan dan hidup yang sehat. Festival ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa anak-anak pada usia tertentu bisa mendapat kesialan sehingga diperlukan perlindungan. Anak-anak biasanya mengenakan pakaian tradisional untuk acaranya dan setelah mengunjungi kuil banyak orang membeli chitose-ame (permen seribu tahun) yang dijual di kuil.
  • O-misoka(31December)
    Masyarakat Jepang membersihkan rumah (Osoji) untuk menyambut tahun baru dan untuk menghilangkan pengaruh tidak baik. Banyak warga yang mengunjungi kuil Buddha untuk mendengarkan bel berbunyi sebanyak 108 kali ketika malam hari (joya no kane). Hal ini dilakukan untuk mengumumkan bahwa tahun lama telah dilewati dan tahun yang baru telah datang. Alasan kenapa dibunyikan 108 kali adalah karena penganut Buddha percaya manusia digoda 108 macam hasrat dan nafsu duniawi (bonno). Dengan tiap kali bunyi, satu hasrat dihilangkan. Menjadi adat juga bahwa memakan toshikoshi koba (mie melewati tahun) diharapkan bahwa seluruh keluarga mendapat keberuntungan layaknya sepanjang mie yang panjang.
  • Oshogatsu (1-3 Januari, walaupun perayaan juga dilakukan selama bulanJanuari)
    Tahun Baru adalah even tahunan yang paling penting dan terperinci di Jepang. Sebelum Tahun Baru, rumah dibersihkan, hutang-hutang dibayarkan, dan osechi (makanan yang di baki untuk Tahun Baru) disiapkan ~atau dibeli. Osechi adalah makanan tradisional yang dipilih karena warna keberuntungan, bentuk, atau nama yang menarik dengan harapan untuk mendapatkan keberuntungan dalam berbagai segi kehidupan selama tahun yang baru. Rumah didekorasi dan hari libur dirayakan dengan berkumpulnya keluarga, mengunjungi kuil, dan menghubungi sanak famili dan sahabat. Hari pertama dari tahun (ganjitsu) biasanya dilewatkan bersama keluarga.
  • Setsubun
    Memasuki tiap musim (musim semi,musim panas,musim gugur,musim dingin)
  • Ennichi
    Pekan raya kuil (hari raya yang berkaitan dengan Kami dan/atau Buddha)
5.Perayaan hanami
Sakura (桜) merupakan bunga nasional Jepang yang mekar pada musim semi, yaitu sekitar akhir Maret hingga awal bulan April di wilayah Tokyo, terutama saat cuaca sudah mulai hangat. Sakura sendiri selain dinikmati bunganya, orang Jepang juga banyak menggunakan gambar bunga sakura pada barang-barang seperti kain kimono, alat-alat tulis, peralatan dapur, hiasan dinding dan sebagainya. Bunga sakura merupakan simbol yang sangat penting bagi orang Jepang. Asal usul dari nama bunga "sakura" itu dari kata "saku" (berarti "mekar" dalam bahasa Jepang), kemudian ditambahan bentuk jamak "ra', sehingga menjadi "SAKURA". Apabila dalam bahasa Inggris, bunga sakura disebut cherry blossoms. Warna bunga sakura bermacam-macam, dari yang berwarna putih, merah jambu, ataupun merah menyala. Pohon sakura hanya berbunga satu kali dalam setahun. Jenis bunga sakura yang paling terkenal di seluruh Jepang adalah "someiyoshino" 染井吉野. Mekarnya bunga sakura dimulai dari Jepang bagian selatan (Okinawa) sekitar bulan Februari, kemudian di Pulau Honshu bagian barat ke timur (Osaka, Kyoto, Tokyo). Setelah itu, pergerakan mekarnya bunga sakura bergerak demi sedikit ke arah utara pulau honshu, dan sampai Hokkaido, yang biasanya bertepatan dengan liburan Golden Week setiap tahunnya.  Setiap tahunnya, kita bisa mengecek peta pergerakan mekarnya bunga sakura melalui peta sakuranzensen 桜前線. Dengan melihat informasi mekarnya bunga sakura, kita bisa menentukan hari yang tepat untuk piknik bersama teman atau keluarga dibawah pohon sakura sambil menikmati keindahan bunga sakura, disebut "hanami" 花見. Bunga jenis "someiyoshino" hanya dapat bertahan kurang lebih selama satu minggu. Rontoknya bunga sakura juga bisa dipercepat akibat hujan lebat atau angin kencang. Selain itu, beberapa jenis burung juga menyukai bunga sakura yang berasa manis, sedangkan burung merpati terkadang memakan seluruh dari bagian bunga sakura.
Istilah-istilah yang sering digunakan dalam informasi mekarnya bunga sakura, seperti "kaika"
開花: terbukanya kuncup bunga, "ichibuzaki" 一部咲き: bunga mekar sebesar 10% dari kuncup bunga yang ada pada pohon sakura, "mankai" 満開: bunga sakura telah bermekaran seluruhnya. Pada saat bunga sakura rontok, maka akan digantikan dengan keluarnya daun-daun muda. Pada saat bunga sakura rontok sebanyak 10% disebut "ichibu hazakura" 一部葉桜. Namun, apabila seluruh bunga sudah rontok dan hanya tersedia daun-daun muda maka disebut "hazakura" 葉桜, yang artinya sakura daun.
Selain jenis pohon sakura "someiyoshino", ada yang disebut pohon sakura jenis "yamazakura" dimana bunga sakura bermekaran di daerah pegunungan. Sebagai informasi, daun dan bunga sakura yang sudah direndam di dalam air garam dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan karena wangi dari bunganya yang harum.

KEBIASAAB-KEBIASAAN ORANG JEPANG

1. Ketika di kendaraan
   Orang-orang Jepang mengisinya dengan membaca atau malah sekalian tidur.

2. Ketika sehabis makan di kendaraan umum
   Mereka akan memasukkan sampah, atau bekas kemasan makanan ke sakunya   atau langsung di masukkan ke tempat sampah.

3. Ketika di kelas atau ruang Kuliah
  Bangku yang kosong banyak di bagian belakang, yang bagian depan selalu penuh

4. Ketika dosen sedang menyampaikan kuliahnya
  Mahasiswa Jepang menyimak dengan baik sehingga keadaan kelas sunyi senyap,semua konsentrasi ke materi yang sedang disampaikan dengan serius.

5. Ketika ada tugas dari dosen atau guru atau kantor
   Segera hari itu atau beberapa jam dari sejak diberi tugas, akan segera mencari cara dan mengerjakannya dengan antusias tidak menunda-nunda waktu untuk dikerjakan nanti-atau nanti di lain waktu.

6. Ketika terlambat masuk kuliah atau kelas atau tempat kerja
  Masuk dengan permisi memohon maaf sampai terbungkuk-bungkuk dengan menyesal dan bertanggung jawab untuk tidak mengulanginya lagi.

7. Ketika jam kantor, jam kerja berjalan
   Di jalanan sepi banget karena mereka dispilin dan patuh kepada waktu kerja, tidak dipakai keluyuran.

8. Ketika berangkat ke kantor atau sekolahan
   Mereka suka menggunakan angkutan umum, jarang memakai kendaraan pribadi.

9. Ketika janjian ketemu atau kerja
   Pada umumnya mereka tepat waktu, jangan sekali-kali anda melewati waktu dengan ngaret bila berjanji ketemuan dengan orang Jepang.

10. Membuang Sampah
   Ketika membuang sampah mereka dispilin dengan membuang sampah organik dan anorganik dipisahkan

11. Cara berjalan
   Pada umunya cara berjalan mereka gesit dan cepat karena tidak mau terlambat pergi ke tempat kerja atau tempat tujuan.

12. Suka membaca
    Membaca menjadi sebagian kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan dan seakan menjadi sudah mendarah daging.

KEBUDAYAAN JEPANG

KEBUDAYAAN JEPANG

 

Jepang yang mempunyai kebudayaan yang unik membuat Negara bunga sakura itu banyak di kenal masyarakat dunia salah satunya Indonesia, kebudayaan jepang yang sampai saat ini masih dilakukan dalam berbagai kesempatan misalkan perayaan hanami, di karenakan masyarakat jepang mencintai kebudayaannya sendiri dan mau menjaganya. Orang jepang mau memakai pakean seberat dan setebal kimono untuk sekedar menghadiri upacara resepsi pernikahan, sekarang kita tau bagaimana cintanya warga jepang pada kebudayaannya sendiri. Adakalanya kita perlu mengetahui seperti apa kebudayaan jepang itu, mungkin dengan mengetahui beberapa kebudayaan jepang kita bisa sedikit meniru cara melestarikan kebudayaannya, mungkin bisa saja kebudayaan kita tetap terjaga dan tetap di lakukan seperti kebudayaan jepang  beberapa.